Belajar “Cerdas” dari Singapura dan Malaysia

Photo Courtesy: cdn.yourstory.com

Apa itu kota cerdas? Internet cepat? Serba digital? Atau kecerdasan warga kotanya yang di atas rata-rata dunia? Studi yang dilakukan EasyPark Groups boleh jadi mengubah pandangan kita tentang definisi Kota Cerdas. Perusahaan layanan parkir bermarkas di Swedia ini menetapkan 7 indikator. Selain Digitalisasi, menurut mereka, Kota Cerdas juga harus baik dalam hal Transportasi dan Mobilitas, Keberlanjutan, Pemerintahan, Inovasi Ekonomi, Standar Hidup, serta Persepsi Pakar.

Tujuh indikator tersebut kemudian dipecah lagi menjadi 19 kategori yang lebih terukur. Di dalamnya, termasuk sarana parkir cerdas, transportasi publik, energi bersih, pengolahan sampah, digitalisasi pemerintahan, pendidikan, partisipasi warga, hingga penetrasi ponsel cerdas, kecepatan internet, dan keberadaan 4G LTE.

Hasilnya, mereka menelurkan Indeks Kota Cerdas 2017. Di dalamnya terdapat daftar 100 kota paling cerdas di dunia. Untuk menelurkan daftar ini, pekerjaan mereka pun bukan main-main. Mereka harus menganalisis 500 kota di seluruh dunia dan memberikan peringkat berdasarkan 7 indikator dan 19 parameter di atas. Bahkan, mereka mewawancarai 20 ribu jurnalis teknologi dan perkotaan untuk melihat opini mereka tentang kota cerdas.

Hasilnya, Copenhagen di Denmark keluar sebagai kota paling cerdas di dunia. BusinessInsider.com  menyebutkan bahwa kota ini memiliki ekosistem perusahaan start-up yang sehat dengan titik wi-fi yang sangat banyak di seluruh kota. Selain itu, Copenhagen juga memiliki lalu lintas dengan tingkat kepadatan yang sangat rendah. Tidak hanya itu saja. Copenhagen juga banyak berinvetasi di bidang energi bersih. Bahkan, mereka menetapkan 100 persen bebas karbon pada tahun 2025.

Asia Tenggara sendiri diwakili oleh Singapura. Negara kecil ini berhasil menempati posisi kedua setelah Copenhagen dan berhasil melampaui Stockholm, Swedia; Zurich, Swiss; Boston, Amerika; dan Tokyo, Jepang. Menurut BusinessInsider.com, Posisi ini ditengarai karena Kota Singa tersebut memiliki jaringan transportasi publik dengan biaya paling efisien di dunia.

Kota lainnya di Asia Tenggara adalah Kuala Lumpur, Malaysia. Kota ini berhasil menempati posisi 84. Posisi ini masih lebih baik dari Shanghai di China dan Rio de Janeiro di Brazil serta New Delhi di India.

Bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya, tidak ada satu pun kota di Indonesia yang masuk ke dalam Kota Cerdas di dunia. Jakarta, Bandung, dan Surabaya pun masih harus memperbaiki ketujuh indikator kota cerdas tersebut. Barangkali, bila dulu Singapura dan Malaysia belajar dari kita, mungkin sudah saatnya kita mulai belajar dari mereka. Setidaknya, belajar untuk menjadi cerdas sebelum benar-benar cerdas.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s